Thursday, April 11, 2013

Preparing A Good Presentation - ToC Class BritZone English Club | April 2nd, 2013

What things that will you do when you're gonna make a presentation in a public speaking? Want to know about it all? Let's go to the point!

There are 5 tips or steps for you to preparing a good presentation that will give you a satisfied result in the end of your section, there are :

  1. Audience Analysis and Information Collection
  2. Confidence Building
  3. Speech Organization
  4. Body Language
  5. Vocal Variety
     First, is about audience analysis and information collection. Audience analysis is an activity that you have to do so you can understand each background of your audience, perhaps you can make a segmentation based on age, based on educational background, based on profession background or else. With doing some segmentation like that, you can adjust your substantial presentation so the audience can easily remember your substantial material.
     Besides, don't forget to enrich your vocabulary, so that you won't be confusing about what you want to say in front of the audience. You can write down in a paper the new vocabulary that maybe you can forgot when you deliver your presentation. It surely can help you to make a good language to make audience understand easier what you mean about. And if you have write down your new vocabulary, do a recheck on your material, is that too long or suit enough. If it's still too long to say to the audience, just remember the "KISS". What is that? KISS is stands for "Keep It Short and Simple". Don't try to deliver too long material to the audience because it can make them feel bored and will leave the hall.
     After you have make it short and simple, recheck the substantial, is that has been encompassed your material or still too messed up. Try to find some important points to say and try to make it as a golden information. The gold information is something that the audience didn't know it yet, so it can make them say "That's All" when you say the golden information. 
     Second is about confidence building. The first step to build your confidence is try to enrich your information as much as you can related to your presentation, then do rehearsal. After that, you have to keep feel confidence with some important points, it's like fulfill their hope. Yeah, the audience comes to your presentation is want to get something new. How can grow up more confidence to ourselves? Here are : They're waiting for me, They want to know and get something from me, and they trust me and appreciate me. Guarantee, those minds will keep you stand in a good self-confidence.
     Third is about speech organization. There are 3 points related to speech organization, they are for opening, body and conclusion of your material. For the opening section, you have to start it with something relax, like an introducing between you and the audience or about something latest happen in your around. A good opening section, sometime can be determining your successful of your whole presentation, and it can enchanting the audience about what you will say in the middle of the section. For the body message, you can make it short and simple, like has been written above, remember the "KISS". After all, make a conclusion, some words that representative your whole presentation, it's for reminding the audience about the message that you've been told to them.
     Fourth is about body language. Starts from the way you stand up, gesture and movement. The way you stand up is purposing to get attention from the audience, try to stand up straight but still in a relax style. Gesture, it's related to your hand. Use gesture for the material that you're understanding, so your gesture won't be useless. Don't too much gesture, because it will be really disturbing your performance. And then, try to make some movement of your position, so you can feel more relax and the audience won't be tired to look at the way you stand.
     The last one, fifth is about vocal variety. It's related to your intonation, your up and down town. Make it right with the situation of your words. Then create your emotion naturally, so that's why you need a rehearsal before. The emotion will be effected to the audience to get what you mean in your presentation, and will give them an emphasis so they can easily about the meaning. And the last, recognize your vocal characteristic, if you can know it, so you will be get  a better feedback after you do a presentation.

     So, starts from now if you wanna do a presentation in a public speaking, make sure you can remind these things to give you a better performance. Cheers!

*Has been delivered in Training of Counductor (ToC) Class BritZone English Club on Tuesday, April 2nd, 2013 by Faizal Ahda as the conductor.

Friday, March 22, 2013

Politik Paketan

Politik paketan? Maksudnya? (Iya sebentar, ini lagi mau dibahas kok!)

     Akhir-akhir ini pernah terjadi beberapa kasus munculnya gap antara pemimpin dan wakilnya, sehingga menyebabkan mereka hanya "romantis" di awal namun berakibat kisruh di tengah dan akhir masa akad jabatan mereka. Contoh yang paling santer dibicarakan oleh media adalah saat wakil bupati Garut, Dicky Chandra yang menjadi wakil dari bupati Garut yang paling fenomenal pada saat itu, Aceng Fikri. Selain itu, ada juga yang paling paling paling fenomenal, yakni saat mundurnya Prijanto sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, yang pada saat itu gubernurnya masih dijabat oleh Fauzi Bowo.
      Penyebab mundurnya wakil dari atasannya ada berbagai macam, diantaranya adalah seperti yang terjadi pada Dicky Chandra. Hanya berlatang alasan klasik, sudah tidak ada lagi kecocokan di antara mereka. Seperti halnya pada Prijanto yang merasa tidak cocok dengan pasangannya, Fauzi Bowo, di masa-masa akhir jabatannya yang tinggal 11 bulan lagi. Andai mereka tahu, menjadi pasangan pemimpin itu adalah layaknya pasangan suami-istri yang melakukan akad pernikahan di hadapan penghulu dan disaksikan oleh Tuhan. Perceraian adalah hal yang dibenci oleh Tuhan, serupa dengan pisahnya pemimpin dengan wakilnya, berarti hal tersebut adalah bentuk pelepasan tanggung jawab yang telah diamanahkan oleh masyarakat. Pelepasan tanggung jawab, walaupun secara resmi namun tetap saja hal itu adalah tak lazim.
     Logikanya begini, kalau mereka tiba-tiba timbul ketidakcocokan, mengapa mereka mau berpasangan di awalnya. Nah itulah yang menjadi tanda tanya besar di pikiran masyarakat dan jajaran stafnya. Seakan yang bisa menjadi jawabannya adalah mereka berpasangan hanya karena tanggung jawab partai, bukan bentuk tanggung jawam sebagai seorang pemimpin. Lagi-lagi, masalah partai adalah hal yang tak akan bisa pernah lepas dari sosok yang diusungnya sebagai pemimpin dan wakilnya. Perasaan timbul hutang atau suatu ikatan agar tetap mematuhi partai walaupun mereka telah menjadi milik rakyat seutuhnya. Masalah partai adalah urusan lain, jangan pernah atau tidak boleh dicampur adukan dengan urusan kepemimpinan yang telah diamanahkan. Kebanyakan saat inil, para pemimpin dan wakilnya selalu bagai sapi yang dicucuk hidunya oleh partai, apapun yang diperintah oleh partai maka harus dilaksanakan, tetapi justru melupakan tanggung jawabnya sebagai pemenuh aspirasi rakyat. Intinya, lupakan sejenak urusan partai jika seseorang terpilih menjadi pemimpin dan wakil pemimpin untuk suatu wilayah tertentu, tetap hanya pikirkan rakyat karena rakyat menaruh harapan pada mereka.
     Untuk itu, memang jalan terbaik jika ingin menjadi pemimpin dan wakil pemimpin haruslah berasal dari "atap" yang sama, jika ingin dari partai, maka harus dari partai yang sama. Dukungan dari partai lain sah saja,  namun hanya untuk dukungan suara dan perjanjian jabatan, itu hal yang lumrah asalkan tidak ada janji sebagai wakil, karena hal itu bisa menimbulakn reaksi yang alamiah pada saat roda pemerintahan berjalan. Menyatukan visi dan misi bukan hanya sekedar dari calon pemimpin dan wakilnya, namun jika berbeda partai maka akan sama visi misinya akan tetapi tetap berbeda "perintah" dari partainya masing-masing. Ibarat rumah tangga, kesepahaman agama bisa disebut sebagai partai, jika calon suami dan istri berbeda agama mereka bisa tetap disatukan, namun tetap akan menjadi hal yang masing-masing dalam perintah dari agamnya. Hal tersebut pun bisa berakibat menumbuhkan rasa kebingungan dari anaknya, mau kemana atau mau ikut agama mana mereka nantinya? Jika dari usia dini saja hanya ditanamkan dari kedua agama, bukan dari satu agama pasti dari orang tuanya. Sama halnya dengan pemerintahan, jika pemimpin dan wakilnya berasal dari partai yang berbeda, maka  jajaran staf dan rakyatnya akan menjadi bingung, sebenarnya mereka pada saat pemilihan lalu itu mendukung manusia atau partai, karena saat sudah terpilih malah pemimpin dan wakilnya malah menjalankan amanah partai, bukan amanah rakyat. Alhasil, akan timbul banyak reaksi, mulai dari rasa curiga dan tidak percaya, hingga maraknya demonstrasi terhadap kinerja pemimpin dan wakil yang memang tidak sejalan sebagaimana mestinya yang diakibatkan berbedanya visi dan misi dari partai pengusung mereka masing-masing.
     Teringat baru-baru ini pernyataan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi yang menyatakan bahwa sepertinya memang di Indonesia itu tidak perlu ada wakil pemimpin, karena memang menurut hemat saya, sosok wakil itu hanya bertugas sebagai pengganti dikala sang pemimpin berhalangan untuk hadir dalam suatu acara. Bahkan bisa dibilang sosok wakil adalah hanya bertugas sebagai pemanis dalam jalannya roda pemerintahan, dan lebih parahnya lagi sosok wakil hanyalah penarik suara saat pemilihan berlangsung, karena tak jarang sosok wakil lebih disegani dan lebih berjasa dibanding sosok pemimpinnya. Padahal, jika hanya bertugas sebagai pengganti, hal tersebut bisa dilaksanakan oleh dinas-dinas yang ada kaitannya dengan suatu acara tersebut, misalkan jika ada acara kepemudaan dan olahraga, maka hanya perwakilan dinas olahraga dan pemuda (disorda) pun sudah cukup, bahkan lebih dari cukup karena perwakilan tersebut lebih menguasai tema dari acara itu.
     Gamawan Fauzi juga menyatakan bahwa ia pernah menjabat sebagai kepala sekolah, dan ia tidak menunjuk seorang pun untuk menjadi wakilnya, dan roda kepemimpinan pun tetap berjalan lancar. Menurutnya juga, saat ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sedang dalam garapan usulan rancangan undang-undang tentang jabatan dalam sebuah kepemimpinan, seperti dalam lingkup bupati, walikota dan gubernur. Hal tersebut sedang diupayakan oleh Kemendagri kepada DPR RI dan berharap usulan tersebut bisa dikabulkan.
     Semoga saja hal tersebut bisa segera direalisasikan oleh DPR, agar bisa meminimalisir timbulnya aksi-aksi anarki dari pendukung mereka yang telah kecewa dengan kinerja pemimpin karena tidak sesuai dengan rakyatnya. Lagipula jia hal tersebut bisa dilaksanakn, otomatis bisa menghemat APBD untuk menggaji para pejabat setempatnya, kan? Jadi APBD bisa difokuskan untuk pembangunan daerah, bukan lagi dikeluarkan untuk hal yang absurd seperti untuk menggaji wakil pemimpin. Karena jumlah gaji seorang wakil tidak terlalu sebanding dengan kinerjanya yang hanya sebagai wakil.

*Terinspirasi dari tayangan talkshow 811 Show Metro TV pada Kamis, 21 Maret 2013 dengan narasumber Gamawan Fauzi (Mendagri) dan J. Kristiadi (Pengamat Politik CSIS) yang membahas tentang dilema kinerja wakil pemimpin suatu daerah.

Thursday, March 21, 2013

Politik Bawang 2013

Sumber gambar : http://reevy.files.wordpress.com/2012/05/garlic-onion.jpg
     Hayoooo, siapa yang juga ngerasa kalo sekarang-sekarang ini porsi bawang di setiap hidangan jajanan lagi agak berkurang atau bahkan lagi kosong? *SAYA!. Jadi begini, ini pengalaman nyata saya loh, baru saya dapati tanggal 19 Maret 2013 lalu. Ceritanya saya sedang di kampus untuk beberapa keperluan, sedari siang saya tiba di kampus tercinta hingga kemudian sekitar jam 14.00 WIB saya sudah mulai merasa lapar. Saya pun lantas mengajak teman-teman saya untuk makan di warung nasi dekat kampus, warung nasi yang pemiliknya kami sebut dengan panggilan "Mpok". Seperti biasa, kami akan di sana hingga senja menyapa, yaaah sekedar untuk melepas beban pikiran dan memanjakan lambung tersayang.
      Setibanya kami di sana, saya adalah orang pertama yang lantas memesan 1 porsi nasi uduk dengan beberapa lauknya. Namun ada yang tidak biasa ternyata :
Saya (S) : "Mpoook, mpoook.. *lagi sholat kali nih yaa*".
S : "Mpoook.."
Mpok (M) : "Iyaaaaa"
S : "Mpok, nasi uduk ada gak?"
M : "Ada nih, mau pake apaan? *sembari nyendokin nasi ke dalam piring"
S : "Biasa, mpok. Pake telor dipedesin sama perkedel, pakein kuah semurnya dikit ya"
M : "Sip.. Eh tapi ini lagi kaga ada bawang nih ya, gak apa-apa kan?"
S : "Hahaha iya mpok, kaga papa, lagi mahal juga, mpok?"
M : "Iya nih, udah dari kemarenan"
S : " Iya dah mpok. Oh iya, biasa ya minta batu es"
M : "Oke"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     Tuh, dari kejadian nyata di atas, ternyata harga mahal bawang sudah mulai menjalar ke segala penjuru, hingga ke perbatasan. (Karena Ciputat adalah daerah perbatasan antara Jakarta dan Banten). Padahal yang kita semua ketahui, bawang adalah tipikal satu benda yang memang sepele, tapi jika sedang situasi seperti 2013 saat ini pasti imbas naiknya harga bawang menusuk kalbu dan menguras isi dompet para kaum bapak dan kaum ibu. Mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang memang terhitung besar, kisaran Rp. 65.000,- hingga Rp. 100.000,- per kilogram bawang, baik itu bawang merah ataupun bawang putih.
     Bawang merupakan salah satu jenis bumbu yang memang semua jenis bumbu adalah sepele namun memiliki pengaruh besar terhadap kualitas masakan Indonesia. Ternyata benar, ada nasehat yang berbunyi "segala sesuatu pasti baru terasa kehadirannya jika sesuatu tersebut sudah hilang". Bawang goreng ataupun bawang putih memang kerap digunakan sebagai bumbu masak dan taburan untuk berbagai jenis hidangan, walaupun tidak menjadi sebuah kewajiban tetapi istilah "tidak ada bawang, tidak rame" memang benar terbukti adanya. Bawang goreng memang memberi kenikmatan tersendiri pada sejumlah hidangan utama, seperti nasi uduk yang terjadi pada kisah nyata saya di atas. Tapi tanpa adanya bawang goreng, nasi uduk terasa hambar dan kurang greget.
     Sekarang kita menuju topik mengapa harga bawang bisa melonjak naik, atau bahkan kata mama saya, itu harga gak naik, melainkan berubah total. Harga yang namanya naik itu biasanya hanya berkisar 1000-5000 rupiah, tapi kalau melonjak dari Rp. 25.000,- menjadi Rp. 65.000,- atau Rp. 100.000,- itu sih kebangetan, berubah harga tapi gak bikin selametan nasi kuning dulu, bener gak ibu-ibu?
     Bawang di Indonesia memang sedang mengalami krisis, berbagai krisis tepatnya yang disebabkan oleh berbabagi faktor. Faktor pertama adalah datang dari pengaruh cuaca, cuaca di Indonesia yang belakangan ini sedang tidak bersahabat menyebabkan sedikitnya terhadap jumlah pasokan panen bawang di daerah penghasilnya. Faktor cuaca adalah faktor yang memang tidak bisa disalahkan secara langsung dan murni sulit untuk diubah. Faktor kedua adalah datang dari subyek penghasil bawangnya, yakni para petani. Para petani bawang memang sulit untuk mendapatkan bibit bawang unggul untuk memenuhi permintaan pasar, alhasil bawang yang mereka tanam pun ya memang hanya berkualitas "Indonesia". Sulitnya mendapatkan bibit unggul ini adalah akibat mahalnya harga bibit bawang yang berkualitas bagus, karena memang seakan tidak didukung oleh pemerintah terkait untuk menyejahterakan kehidupan petani. Nah, faktor pemerintah inilah yang menjadi faktor ketiga. Pemerintah memang memiliki peran yang banyak terkait pasokan kebutuhan pasar di Indonesia. Pemerintah dari tahun ke tahun sudah kecanduan dengan barang impor, lebih bangga dengan hasil dari negeri orang dibanding hasil dari jerih payah negeri sendiri. Pasokan bawang impor yang imbasnya menghalangi bawang kualitas lokal menyebabkan petani bawang Indonesia menjadi semakin terpinggirkan dengan bawang-bawangnya yang tidak dihargai. Alhasil, sempat tersiar di berita bahwa banyak di pelabuhan yang mendapati kontainer-kontainer ukuran besar yang berisi bawang impor sedang (katanya) diproses terkait administrasi impor. Sekilas terlihat bahwa pemerintah malah menjadi penimbun bawang saat kebutuhan dan pasokan bawang di pasar sedang tidak seimbang. Nanti baru deh, kalau sudah tanggal mainnya, bawang-bawang impor itu mulai disalurkan ke pasaran lokal. Tujuannya bukan lain untuk menguntungkan pihak pengimpor dan menghalangi kualitas lokal untuk bersaing secara sehat di pasaran.
     Beberapa faktor di atas, bukan hanya terjadi pada bawang. Masih ingatkah para pemirsa tentang naiknya harga cabe yang terjadi beberapa waktu lalu? Pasti lah masih ingat, apalagi kaum ibu dan kaum bapak. Harga cabe yang naik itu hanya berkisar beberapa minggu, setelah itu mulai lagi kembali normal. Kejadian itu berlangsung di saat masyarakat Indonesia mulai banyak melontarkan rasa ketidakpercayaan terhadap pemerintah di segala aspek. Sama halnya dengan kasus bawang ini, apalagi sekarang sudah Maret 2013, hanya tinggal 12 bulan lagi menuju 9 April 2014. Klasik, menindas yang lemah kemudian mendadak prihatin dan pura-pura tidak tahu, lalu mulai  bertindak atau lebih tepatnya berlaga heroik dengan mengembalikan keadaan seperti semula, dan pada akhirnya mereka para oknum akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk 2014. Maaf yaaa, kami sudah banyak yang cerdas, bisa menilai siapa yang tulus dan siapa yang memang hanya sekedar "pembuat topeng". Apalagi kaum ibu dan kaum bapak, pasti merasa "ah, ogah gue milih dia, waktu itu aja pas dia mimpin harga-harga kebutuhan pokok naiknya kaya mau ngebunuh orang".
     Politik sejenis ini memang sudah banyak, sesuai dengan ilustrasi grafik normal di pasaran; ada kalanya baru merintis, kemudian mulai bangkit, ada di posisi atas, kemudian mulai jenuh dan pada akhirnya turun drastis dan harus memulai dari awal lagi. Sama halnya dengan pencitraan tersebut di atas; ada kalanya membuat keadaan normal, kemudian membuat ulah, lalu mengembalikan kenormalan dengan tangannya sendiri, lalu kembali normal dan mulai dari awal lagi. Ya sebagai warga negara Indonesia yang baik dan cerdas, harusnya bisa berpikir jernih atas segala kondisi yang ada, jangan mudah terpukau dan terpesona dengan segala bentuk kemudahan yang disediakan, karena bisa jadi ada kejahatan di balik topeng karakter baik tersebut.
     Di tengah-tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan saat ini, harus pandai memilih "barang di pasaran", kadang ada yang masih mentah tapi tak jarang juga yang sudah terlanjur busuk, tergantung si penjualnya itu yang bisa berlaku jujur. Tetap pasang mata, pasang telinga dan tetap jaga hati, karena kebohongan bisa saja terjadi jika ada sedikit celah dan ada kemauan untuk berbohong (ya iya laaaah).



Salam hormat,
Abdus Somad, Ph.D

Sunday, March 3, 2013

Aku Tersesat, Tapi Aku Bisa Bangkit Hingga #Wisuda89

"Manajemen Dakwah? Hahahahaha mau ngapain? Mau jadi ustadz?"

     Dulu aku juga berpikir begitu, tapi semakin ke sini aku makin sadar siapa aku, siapa Manajemen Dakwah dan apa peranannya di dunia persaingan global ini. Sebenarnya, Manajemen Dakwah adalah mengoordinasikan ilmu-ilmu manajemen dengan nilai-nilai keisalam dan diaplikasikan kepada lembaga-lembaga yang berbasis syariah, yang faktanya saat ini sudah mulai banyak menjamur dalam berbagai hal; perbankan, asuransi, transaksi dan aspek lainnya. Bukan sekedar cuap-cuap di depan para pendengar yang belum tentu mereka menerapkannya atau tidak.
     Sudah hampir makanan seminggu-minggu (bukan lagi sehari-hari) ucapan-ucapan tersebut dilontarkan kepadaku selaku mahasiswa Manajemen Dakwah. Dalam benak hanya tersirat "Haha, akan ku buktikan suatu saat nanti". Aku hanya ingin menjadi aku, bukan menjadi anda, kalian atau mereka. Aku awalnya memang agak merasa tersesat, tepatnya agak sedikit tersesat. Bingung apa yang harus aku perbuat di jurusan ini, ditambah lagi dengan kurikulum semester awal yang memang hampir bersentuhan dengan agama. Bukannya aku bosan dengan agama, tapi masa iya sudah lari jauh ke UIN tapi lagi-lagi menimba ilmu apa yang sudah aku dapatkan semenjak masih di Ibtidaiyah?.
    Tapi, oooh baru paham setelah menginjak semester 3, mulai diisi dengan kurikulum tentang dunia per-manajemen-an dan antek-anteknya. Yaa walaupun masih agak merasa sedikit tersesat, aku berusaha menggali apa yang sebenarnya terkandung dalam nama "Manajemen Dakwah". Waktu demi waktu berlalu, semakin yakin dan semakin berterima kasih kepada Allah yang menuntunku kepada jurusan Manajemen Dakwah. Ada 2 hipotesis : aku yang membutuhkan Manajemen Dakwah atau Manajemen Dakwah yang membutuhkan SDM seperti aku!
     Betapa bersyukurnya aku berada di dalam keluarga Manajemen Dakwah, jika saja aku masuk UIN ke jurusan yang lain, aku belum tentu menjadi aku yang seperti sekarang ini. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang beragam, bisa menjadi salah satu (bisa dibilang) sebagai "delegasi" dari Manajemen Dakwah yang aktif di organisasi ekstra, bisa kesana kemari melanglang buana, hidup di lingkungan baru bernuansa politik, mendapatkan beasiswa yang seabreg dan yang paling penting bisa lulus dengan IPK 3,48 pada semester ke-9. Hal terakhir tersebut adalah yang paling membuatku bersyukur, memang jika melihat teman-teman sejawatku yang berbarengan masuk UIN, mereka terlihat lebih sulit dalam mendapatkan nilai di atas 3,0. Bahkan ada juga beberapa yang sulit untuk mendapatkan kelulusan karena dosen-dosennya yang terlalu idealis. Ya memang, dengan modal otakku yang isinya memang tak bersifat statis, hanya bersifat teoritis dan argumentalis ya memang pas jika ditempatkan atau ditakdirkan menjadi mahasiswa Manajemen Dakwah. Tak perlu berkutat terlalu banyak dengan kepastian sebuah teori atau lainnya. Intinya adalah bersyukur dan berusaha tetap menjadi yang lebih baik dari yang terbaik.
     Sebenarnya aku bosan mendengar ucapan para mereka yang baru mendengar istilah Manajemen Dakwah dan hanya mengartikannya sebagai calon pendakwah. Tidak salah memang, tapi kami adalah pendakwah dengan cara kami sendiri, bukan dengan cara tradisional dan konvensional, melainkan dengan pendekatan yang lebih modern, dengan konsep menanamkan kebiasaan hidup ber-syariah atau dengan meneladani nilai-nilai keisalaman yang memang sudah seharusnya diaplikasikan oleh umat manusia. Kami adalah pendakwah, kami hidup di zaman modern, kami adalah preachers in a modernity!

Viva La Manajemen Dakwah!

8 September 2008.

     Aku masih ingat tanggal itu. Ya, tanggal dimana hari pertama aku menjalani status baru sebagai mahasiswa, jurusan Manajemen Dakwah di kampus hijau pembaharu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tapi sebelum masuk hari pertama, ada lah beberapa perkenalan almamater kampus melalui kegiatan Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa). Pada waktu itu propesa angkatan 2008 dilambangkan dengan hewan burung hantu, kurang tahu sih apa filosofinya. Tapi menurut hematku, simbol burung hantu dimaknakan sebagai luasnya ilmu pengetahuan dan cakrawala ilmu, bisa melihat semua celah positif untuk pengembangan diri dalam proses kedewasaan diri. Sesuai dengan sifat dan karakter yang dimiliki oleh seekor burung hantu, ia bisa melihat dalam pandangan yang luas dan seakan tak terbatas, dengan tambahan mata yang tajam yang mampu melihat hewan-hewan kecil yang menjadi mangsanya.
Gambar : Properti Propesa
Sumber : Dokumentasi Pribadi
     Kenangan propesa sungguh banyak, mulai dari ajang baru saling kenal dengan teman-teman seangkatan, dengan senior dan dengan staf pengajar. Pada waktu itu, kelompok propesa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (sekarang Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi) dinamakan dengan nama KODAK (Kelompok Dakwah), aku kedapatan sebagai anggota KODAK 5. Begitu panjang cerita tentang propesa, mulai dari dapat teman pertama di kampus, SKSD dengan anggota lainnya, bawa properti yang aduhai heboh dan semarak, pertama kalinya tidak di rumah pada waktu larut malam dan lain-lain.
     Properti yang harus dibawa waktu itu antara lain topi caping di cat merah (untung waktu itu bapak punya topi caping di rumah), kalung dari beng-beng, kain sarung merah, tampah di cat merah, botol 1,5 liter diisi kacang hijau biar berisik, kemeja putih, celana bahan hitam, kaos kaki merah, sepatu hitam bertali merah dan gesper merah. #Riweuh. Tak perlu cerita banya ya tentang propesa, karena isinya ya sama seperti kegiatan-kegiatan ospek yang lazimnya.
     Hari pertama kuliah, canggung, belum kenal siapapun, masih rajin, masih berbau mahasiswa baru lah ya. Semakin lama-kelamaan, ya mulai deh kenal ini itu, siapa dia siapa dia siapa dia dan lain-lain. Awal perkenalan dengan mereka dan dekat dengan mereka, tapi semakin meranjak ke semester-semester berikutnya malah kenal dengan mereka yang lain dan semakin dekat dengan mereka yang lain itu. Itulah takdir.
Gambar : Ta'aruf MD Angkatan 2008
Sumber : Dokumentasi pribadi
     Waktu semester 1 itu juga menjadi pengalaman pertama berorganisasi, dipercaya menjadi bagian dari panitia Sahur On The Road FDK. Mulai deh ikut-ikutan rapat, sok sibuk dan sebagainya, tapi bermanfaat kok. Lalu tak lama kemudian mulai kenal dengan dunia organisasi ekstra, PMII. Awalnya mau ikut Malam Perkenalan Anggota Baru (MAPABA), tapi ternyata bentrok dengan acara Ta'aruf Jurusan Manajemen Dakwah. Bingung nih ceritanya, padahal sampe hari H menjelang keberangkatan aku masih berniat ikut MAPABA PMII, tapi aku salut dengan teknik lobi dari seorang kakak kelas di jurusan, dengan hebatnya ia mampu membujuk saya untuk bergabung bersama jurusan, dengan berjuta alasan yang memang logis. Alhasil, jadilah ikut ke ta'aruf jurusan di Pantai Anyer. Ternyata seru, benar-benar satu unforgetable moment!
     Kemudian pada tahun 2009, tepatnya di tanggal 16-19 April 2009 mulai ikut yang namanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Dakwah (KOMFAKDA). Ikut dengan beberapa teman dan kenalan, diisi dengan berbagai materi dan berbagai kenangan manis. Sejak saat itulah mulai makin kenal dan dekat dengan dunia organisasi, mulai dapat label aktivis dari teman-teman, jarang pulang, hidup ala anak kos dan sebagainya. The another unforgetable moment!
     Loncat ke semester-semester akhir aja ya, karena di semua semester itu hampir sama isunya, ya tugas numpuk lah, jalan-jalan lah, kegiatan organisasi la dan lain-lainnya. Nah tapi yang (jujur nih ya) berkesan adalah aku dan yang lain alhamdulillah mendapatkan sejumlah beasiswa di setiap tahunnya. Aku sendiri mungkin penerima yang paling banyak diantara yang lainnya, ya mungkin karena aku aktif di berbagai organisasi. Semester pertama mendapatkan beasiswa Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) dari UIN Jakarta, semester kedua langsung mendapatkan beasiswa Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) UIN Jakarta, beasiswa ini berlangsung hingga ke semester kelima. Di semester keenam, mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama Kanwil Jakarta, setelah itu lolos seleksi penerimaan beasiswa BAZIS Jakarta Selatan, namun aku lepas karena aku masih terikat sebagai pendaftar beasiswa Bank Indonesia di semester ketujuh hingga ke semester kedelapan. Sungguh, rasanya mau banget mengulang masa-masa kejayaan itu! :)
Gambar : Orientasi Kepemimpinan dan Budaya FKMB '10
Sumber : Salman al-Farisy
     Di semester 5 juga, aku mulai merambah "dunia luar", aktif di organisasi luar yakni Forum Komunikasi Mahasiswa Manajemen Dakwah (FKMMD) se-Indonesia dan di Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB). Di semester akhir, yakni 7 dan 8 mulai menyusun skripsi dengan rintangan yang datang dari diri sendiri : malas!. Di semester ketujuh juga aku mulai bergabung dengan Sekolah Politik Kerakyatan Komunitas Indonesia Baru (SPK KIBAR). Aktifitas yang lumayan banyak, menyebabkan terbengkalainya skripsiku untuk beberaba bulan, dikarenakan memang aku adalah tipe orang yang tidak bisa membagi fokus otak ke banyak pekerjaan. Akhirnya wisuda di bulan Juni 2012 pun aku tertinggal.
Gambar : Sidang Munaqasyah
Sumber : Dokumentasi pribadi
     Mulai masuk bulan Ramadhan, aku mendapatkan hidayah dari Allah untuk segera menyelesaikan skripsiku. Alhamdulillah, setelah sekitar 2 bulan kejar target akhirnya skripsi itu selesai dengan masih banyak kekurangan, setidaknya saya bisa langsung daftar sidang skripsi dan alhamdulillah bisa melaksanakan sidang skripsi pada 29 November 2012 dengan hasil yang amat baik walau harus lagi-lagi tertinggal wisuda ke-88 di awal November lalu. Banyak revisi dan terbengkalai selama beberapa minggu, hingga pada akhirnya bisa terselesaikan dalam watu 3 minggu dengan usaha dan jerih payah yang amat besar. Selesai, dan daftar wisuda.

Gambar : Banner #Wisuda89 UIN Jakarta
Sumber : Dokumentasi pribadi
     Hingga pada akhirnya, hari ini 3 Maret 2013 aku melaksanakan hari yang amat sakral dan bersejarah untuk jenjang S1-ku ini. Sekian lama kami menunggu dan saat aku duduk di dalam pun masih terbesit pikiran "masih gak percaya, sekarang gue duduk di bangku ini, di bangku untuk para wisudawan dan wisudawati UIN Jakarta". Hingga pada akhirnya disebutnya nama "Abdus Somad" barulah sadar memang ini adalah nyata, bukan sekedar lamunan alam bawah sadar. Selamat dan semangat!
     Diwisudanya aku dan yang lain, bukan berarti lantas aku akan pergi lenyap dari peredaran kampus. Ingat. masih banyak mereka yang membutuhkan bantuan ide-ide untuk menyelesaikan skripsi mereka, mudah-mudahan aku bisa menepati janjiku pada kalian. Asal, aku membantu dan tidak total membantu, karena itu adalah karya kalian, bukan karyaku. Kalian yang bertanggung jawab, bukan aku.
     Sedikit pesan, tetaplah pada apa yang kalian pilih, jangan terlalu iri dengan pencapaian orang lain karena setiap orang di dunia ini memiliki kapasitasnya masing-masing dengan garis hidupnya masing-masing. Tetap percaya pada kemampuan diri, karena kepercayaan diri adalah senjata terhebat untuk mendapatkan kemenangan yang dibanggakan.

*Sebuah uraian perjalanan singkat tentang masa-masa jaya seorang mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2008. Secara teknis, aku menyelesaikan kuliahku tepat 4 tahun (8/9/08 - 29/11/12), namun berdasarkan jumlah semester aku hanya telat 1 semester menjadi total 9 semester. Semoga bermanfaat dan tulisan ini akan terus mengalami penambahan hingga sudah dirasa cukup pada saatnya nanti.

Salam hangat,
Abdus Somad, S.Kom.I

Friday, March 1, 2013

Black Swan Theory (Teori Angsa Hitam)

Gambar : Angsa Hitam (Black Swan)
Picture Source : Wikipedia
     Teori Black Swan adalah sesuatu yang merujuk pada peristiwa langka, berdampak besar, sulit diprediksi dan di luar perkiraan biasa. Sesuai dengan namanya, "Black Swan" yang memang manusia hanya memahami bahwa di dunia ini hewan angsa hanya berwarna putih, namun pada faktanya di beberapa belahan dunia, seperti di Australia Selatan, Australia Tenggara dan Pulau Tasmania. Bukan hanya pada warna, angsa hitam pun menjadi "Black Swan" untuk jenisnya sendiri dalam melakukan kebiasaan migrasi, pasalnya angsa hitam tidak melakukan migrasi dan hanya menetap di tempat ia menetas seperti kebiasaan angsa putih umumnya.

     Teori Black Swan mulai muncul di kalangan masyarakat setelah diperkenalkan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan pada tahun 2007. Menurutnya, teori Black Swan itu muncul secara mengejutkan, berpengaruh besar dan setelah muncul akan menyebabkan manusia berpikir jauh ke belakang terhadap sebab musabab kejadian tersebut. Menurutnya juga, di dunia ini sudah ada fenomena yang menjadi Black Swan yang muncul secara tidak terprediksikan dan tidak teramalkan, yaitu adalah fenomena teknologi komputer dan internet, Perang Dunia 1 dan peristiwa 11 September 2001.

     Teori Black Swan secara singkat bisa diartikan sebagai "1 dari 10", maksudnya adalah bahwa di balik semua hal yang berjalan beriringan sama, pasti ada satu hal yang memecah kesamaan tersebut. Teori tersebut biasa memutus alur sebuah pemikiran atau logika yang mengambil konklusi berdasarkan hal-hal yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

     Sebagai contoh : si A adalah seorang mahasiswa baru, pada hari pertama ia berangkat kuliah pada jam 8 pagi, menerima ilmu ajar hingga jam 3 sore, pulang ke rumah jam 4 sore dan tiba di rumah jam 6 sore. Kejadian itu terus berulang hingga hari ke-15 dan si A telah membuat konklusi bahwa kuliah semester pertama itu ia akan berangkat dari rumah jam 8 dan akan kembali tiba di rumah pada jam 6 sore. Di luar dugaan, pada hari ke-16 ternyata si A yang pada perjalanan pulang terhambat di jalan karena ada sebuah kecelakaan maut yang menyebabkan mobil angkutan yang ia tumpangi terjebak ke dalam kemacetan panjang, sehingga si A menjadi tiba di rumah pada pukul 8 malam.

     Dalam kasus ini, yang menjadi Black Swan adalah kecelakaan maut tersebut, apapun jika mengalami atau melihat sebuah kecelakaan maut dalam perjalanannya, pasti akan mengubah semua kebiasaan yang sama menjadi kebiasaan yang baru namun tidak bersifat permanen. Bisa dilihat dari kasus di atas, maka bisa diambil kesimpulan bahwa Black Swan itu bisa berwujud segala hal, termasuk kematian atau bisa disebut sebagai malaikat maut, seperti yang terjadi dalam Perang Dunia 1 dan peristiwa 11 September 2001. Oleh karena itu, bisa lah kita sebut Malaikat Maut sebagai Black Swan yang selalu berkeliling di antara kita tanpa kita ketahui kapan ia memutus alur kebiasaan sehari-hari kita, manusia.

     Untuk itu, kita sebagai manusia biasa yang tidak pernah tahu akan bagaimana hidup kita sepersekian detik kemudian, hendaklah bersikap santun. Santun bukan hanya kepada orang-orang sekitar, namun juga santun kepada diri sendiri, kepada alam, kepada norma dan kepada Tuhan. Sebagai langkah awal untuk mempersiapkan diri kita dikala Sang Black Swan terbang menghampiri perjalanan keseharian kita.

     Di luar konteks kematian, Black Swan pun juga patut kita ciptakan sendiri, menciptakan dalam arti bukan mendahului Tuhan namun merepresentasikan apa yang Tuhan telah gariskan untuk kehidupan dunia fana. Menciptakan sesuatu yang bukan hanya fisik, melainkan juga bisa sesuatu yang non-fisik, seperti berupa penghargaan ataupun sesuatu yang memorable atas sebuah hal yang kita lakukan dengan sepenuh hati. Menciptakan sesuatu yang setidaknya bisa bermanfaat untuk generasi mendatang, sebagai penerus dan pembaharu dari "Black Swan" yang kita telah buat sebelumnya.

     Sebagai calon pelaku sejarah di masa depan, kita adalah penulis, untuk diri kita, untuk lingkungan, untuk semua yang kita cintai, untuk semua yang Tuhan ciptakan dan sebagai pengubah garis yang telah ditetapkan oleh-Nya. Terakhir, tetaplah mengingat satu firman-Nya yang berarti : "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu merubah nasib mereka sendiri..." (Q.S. Ar-Ra'd : 11)

*Terinspirasi dari pidato Dr. H. Arief Subhan, MA (Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) saat menyampaikan pesan dalam Pelepasan Alumni Wisuda-89 FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 28 Februari 2013 di Ruang Teater Prof. Dr. Aqib Suminto FIDKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Wednesday, February 20, 2013

DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN | SKRIPSI | ABDUS SOMAD | 108053000021 | EVALUASI PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI OLEH DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMROH KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010-2011


DAFTAR PUSTAKA
Anshar, Zakaria, dkk, Profile Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh, (Jakarta: Direktorat Penyelenggaraan Haji dan Umroh, 2008)

Ardani, M., Fikih Ibadah Praktis, (Ciputat: Bumbu Dapur Communication – PT. Mitra Cahaya Utama, 2008)

Ardianto, Elvinaro, Metodolgi Penelitian Untuk Public Relations, Kualitatif dan Kuantitatif (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2010)

Athoillah, Anton, Dasar-Dasar Manajemen, (Bandung: Pustaka Setia, 2010) Cet. I

B Curtis, Dan; J. Floyd, James; L. Winsor, Jerry, Komunikasi Bisnis dan Profesional. (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1996)

Basyuni, Muhammad Maftuh, Formula Pelayanan Prima Dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji (Jakarta, 2008)

_________, Reformasi Manajemen Haji (Jakarta: FDK Press, 2008)

Darajat, Zakiyah, Haji Ibadah Yang Unik, (Jakarta: Ruhama, 2000) Cet. VIII

Djawahir, M. Abdul Ghafur, dkk, Haji Dari Masa Ke Masa, (Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI, 2012) Cet. 1

Hamid Ghazali, Abu, Asrar Al-Hajj, diterjemahkan oleh Muhammad Al-Baqir dengan judul Rahasia Haji dan Umroh (Bandung: Karisma, 2000)

Hamid, H.M. Shalahuddin, Agenda Haji & Umrah, (Jakarta: Intimedia Cipta Nusantara, 2006)

HS, Ahmad Fadli, Organisasi & Administrasi, (Jakarta: Manhalun Nasyi-in Press, 2008) Cet. IV

Hunger and Wheelen, Essesntial of Strategic Management, (Tampa, Florida: Addison Wesley Longman Inc., 1997)

Nasution, Lahmuddin, Fiqh 1, (Jakarta: Wacana Ilmu, 1995)

Nawawi, Hadari, Manajemen Strategik, Organisasi Non-Profit Bidang Pemerintahan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005) Cet. III

Nidjam, Ahmad; Hanan, Alatief, Manajemen Haji: Studi Kasus dan Telaah Implementasi Knowledge Workers, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2001)

Notoatmodjo, Soekidjo, Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005) Cet.5

Mangkunegara, A.A Anwar Prabu, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) Cet.II

Ruslan, Rosady, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi (Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, 2003)

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: ALFABETA, 2008)

Supi, Zainal Abidin, dkk, Himpunan Peranturan Perundang-undangan Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji (Jakarta: 2010)

Supriyatna, Cepi, dkk, Laporan Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1431 H/ 2010 M, (Jakarta: Ditjen PHU, 2010), Cet. I

_________, Laporan Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1432 H/ 2011 M, (Jakarta: Ditjen PHU, 2011), Cet. I

_________, Rencana Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1432 H/2011 M, (Jakarta: Ditjen PHU, 2011) Cet. I

Tripathi, P. C.; Reddy, P. N., Principles of Management, (New Delhi: The McGram-Hill Company, 2008), Cet. 4

Usman, Husaini dan Setiady, Purnomo Akbar, Metodologi Penelitian Sosial (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003)



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BUKTI WAWANCARA
Narasumber     : Bapak H. Abdul Muhyi, S.Kom
Jabatan                        : Kasubbag Tata Usaha Direktorat Pelayanan Haji
Hari, tanggal   : Kamis, 4 Oktober 2012
Waktu             : 11.34 WIB
Tempat            : Kantor Tata Usaha Direktorat Pelayanan Haji Direktorat Jenderal
Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI

Poin-poin wawancara:
1.        Tanya (T)  : Bagaimana standar pelaksanaan ibadah haji ideal?
Jawab (J)  : Menurut yang tercantum dalam Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Ibadah Haji (Juknis PIH),ada beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai standar PIH yang ideal. Diantaranya ditinjau dari aspek akomodasi selama masih di asrama haji Indonesia yang mencakup kriteria yang memiliki fasilitas lengkap,yakni tersedianya sarana kesehatan, sarana komunikasi, kamar tidur, dapur, kamar mandi, keamanan gedung dan kebersihan lingkungan halaman asrama. Kemudian untuk pemondokan di Arab Saudi dengan fasilitas lengkap seperti lift dengan kontrak pemeliharaan, penerangan yang cukup, alat pemadam kebakaran, tempat tidur lengkap beserta karpet, peralatan tidur diganti setiap minggu kecuali kasur, alat pendingin atau air conditioner (AC) di setiap kamar, tersedia air bersih, dapur lengkap, kamar mandi yang layak.
Kemudian ditinjau dari kelayakan gizi katering yang terdiri dari jumlah makanan mengandung energi rata-rata sebesar 2100 Kkal,mencakup makanan pokok (nasi), daging, tempe, sayuran, buah, minyak dan gula dengan kadar tertentu yang mencukup kebutuhan tubuh manusia per harinya.
Lalu ditinjau dari transportasi,yakni armada pesawat yang layak dan masih bagus, jumlah bus yang cukup selama di tanah suci dan pelayanan yang baik jika ada keterlambatan akibat jamaah yang sakit.
Kemudian juga ditinjau dari aspek kesehatan mulai saat embarkasi hingga debarkasi yang pelayanannya mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1061/Menkes/SK/XI/2008 tanggal 11 Nopember 2008 tentang Penetapan Rumah Sakit Rujukan Haji, beserta Petunjuk Pelaksanaan Pengobatan Rawat Jalan dan Rawat Inap pada Embarkasi/Debarkasi Rumah Sakit Rujukan Haji.
2.        T   : Siapakah pihak yang mempunyai wewenang melakukan pengawasan dan evaluasi haji dan bagaimana prosesnya?
J    : Pihak yang mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan adalah antara lain dari Ditjen PHU sendiri,kemudian ada juga unit terkait,seperti Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Komisi VIII DPR RI, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) dan juga dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kemudian ada juga dari instansi pemerintahan yang terkait di bidangnya,seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri dan lainnya. Pengawasan sendiri pastinya dilakukan selama proses PIH berlangsung,mengambil dan mengumpulkan data-data untuk kemudian dievaluasi untuk PIH yang lebih baik tahun berikutnya.
Untuk evaluasinya,dilaksanakan oleh masing-masing pihak yang melakukan pengawasan,kemudian hasil laporan disusun dan diaudit oleh BPK dan DPR RI.
3.        T   : Bagaimanakah peran media massa?
J    : Peran media massa selama PIH berlangsung membantu dalam proses pengawasan dan evaluasi. Berita yang dimuat oleh wartawan akan dipublikasikan ke media massanya secara terkini yang secara tidak langsung memberikan laporan kepada publik dan juga kepada pihak penyelenggara (Ditjen PHU) untuk dievaluasi.
4.        T   : Hambatan PIH di tahun 2011,seperti keterlambatan armada pesawat, katering yang tidak layak, tingkat kematian yang masih cukup tinggi dan transportasi yang belum terpenuhi selama di tanah suci. Bagaimana penanganannya?
J    : Pada hakikatnya,keterlambatan armada pesawat adalah diluar kuasa Ditjen PHU,karena keterlambatan biasanya terjadi karena kendala teknis dari maskapai terkait. Dan Ditjen PHU pun telah membuat kesepakatan dengan maskapai,jika terjadi keterlambatan setelah 4 atau 6 jam baik itu embarkasi ataupun debarkasi,pihak maskapai harus menyediakan pelayanan plus untuk jamaah,seperti penginapan dan konsumsi.
Kemudian untuk tingkat kematian yang masih cukup tinggi,sebenarnya tidak ada yang bisa menghalangi sebuah kematian,namun setidaknya tim kesehatan sudah memberikan pencegahan maksimal sebelum pemberangkatan seperti pemberian vaksin dan identifikasi penyakit dengan mencantumkan di gelang jamaah agar bisa mendapatkan penanganan khusus jika terjadi sesuatu. Juga Tim Kesehatan Jamaah Haji Indonesia (TKHI) memberikan pelayanan kesehatan optimal untuk jamaah selama di tanah suci sesuai dengan SK Menkes RI Nomor : 1061/Menkes/SK/XI/2008 tanggal 11 Nopember 2008 yang didalamnya juga mencakup tentang penetapan rumah sakit rujukan.
Kemudian untuk katering yang tidak layak (basi),terjadi selama masih dalam tanggung jawab maskapai,misalkan saat embarkasi atau debarkasi. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh keterlambatan pesawat ,sehingga itu menjadi tanggung jawab masskapai dan secara teknis dilakukan oleh petugas katering haji dengan mengganti makanan yang basi. Satu hal yang pasti,selama proses PIH berlangsung banyaknya jamaah yang menunggu waktu sholat secara bersamaan didalam masjid,sehingga jamaah tersebut tidak kembali ke pemondokan hingga waktu sholat terakhir dilaksanakan. Hal tersebut justru mengakibatkan jamaah mendapati kateringnya sudah basi karena sudah terlalu lama didiamkan. Jadi permasalahan katering yang basi bisa terjadi akibat 2 hal,yakni hambatan teknis dari maskapai ataupun dari jamaah yang tidak kembali ke pemondokan hingga waktu sholat terakhir dilaksanakan sementara katering sudah tersedia di pemondokan.
Kemudian untuk penanganan keamanan jamaah haji,setelah menggunakan jasa petugas keamanan dari unsur TNI dan Polri,mulai musim haji tahun 2012 ini pihak penyelenggara juga menambah personil keamanan wanita untuk menjaga jamaah haji wanita selama PIH berlangsung di Madinah,karena pada saat itu laki-laki dan wanita tidak bercampur sehingga memungkinkan keamanan jamaah haji wanita lebih terjamin dengan adanya petugas keamanan wanita yang menjaga dari jarak dekat.

Mengetahui,



(H. Abdul Muhyi, S.Kom)



BUKTI WAWANCARA
Narasumber     : Bapak H. Abdurrazak Al Fakhir, ST, MM
Jabatan                        : Kasubbag Tata Usaha Direktorat Pengelolaan Dana Haji
Hari, tanggal   : Kamis, 4 Oktober 2012
Waktu             : 14.30 WIB
Tempat            : Kantor Tata Usaha Direktorat Pengelolaan Dana Haji Direktorat
Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama RI

Poin wawancara :
1.        T   : Dana Abadi Umat (DAU). Siapa yang menyusun penggunaan DAU, sejak kapan diberlakukan dan bagaimana alur pembuatan laporannya?
J    : DAU disusun atas kerja sama Direktorat Pengelolaan Dana Haji (Ditlola) dengan Komisi VIII DPR RI bidang Agama, Sosial dan Pemberdayaan Perempuan. DAU mulai dibentuk dan diberlakukan sejak tahun 1998 saat Tarmizi Taher memimpin Departemen Agama RI (sekarang Kementerian Agama RI). Alur pembuatan laporan fungsi DAU adalah sama seperti pembuatan laporan aspek lainnya,yang pada akhirnya diaudit oleh BPK RI dan disahkan oleh Menteri Agama.

Mengetahui,




(H. Abdurrazak Al Fakhir, ST, MM)






BAB V | SKRIPSI | ABDUS SOMAD | 108053000021 | EVALUASI PENYELENGGARAAN IBADAH HAJI OLEH DIREKTORAT JENDERAL PENYELENGGARAAN HAJI DAN UMROH KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010-2011


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.      Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan analisis,penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1.      Pelaksanaan haji di tahun 2010 dan 2011 berlangsung dengan cukup baik dengan beberapa hal yang klasik atau sudah biasa terjadi dalam PIH dari tahun ke tahun, termasuk dalam pelayanan selama di tanah air yang juga memberikan kepuasan bagi calon jamaah haji Indonesia. Namun PIH tahun 2010 dan 2011 juga masih tak lepas dari berbagai kendala teknis seperti penerbangan yang masih banyak terlambat, katering yang tidak layak, tingkat keamanan yang masih belum baik dan armada bus selama di tanah suci yang masih kurang. Namun Ditjen PHU telah melakukan penanganan secara langsung untuk hal yang bersifat teknis dan juga telah menyempurnakan beberapa rencana kegiatan ibadah haji untuk musim haji di tahun 2012 ini seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan penelitian. Dan menyempurnakan setiap kekurangan dalam proses PIH untuk dibuat standar PIH yang baru yang lebih ideal.
Penggunaan DAU dan penentuan BPIH yang sudah dioptimalkan, sehingga menciptakan keterbukaan atau transparansi PIH selama berlangsung. Juga telah memberikan kejelasan terkait semua hal tentang DAU, mulai dari penyimpanan hingga pengeluarannya.
2.      Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh (Ditjen PHU) menggunakan metode studi kasus lapangan dengan melakukan pengamatan dan mengumpulkan data tentang berbagai masalah yang ada dalam PIH di tahun 2011 dan membuat hasil laporan evaluasi sesuai dengan ketetapan yang berlaku.
Bentuk sistem pengawasan yang baik dan terarah sesuai dengan bidangnya masing-masing,menghasilkan sebuah  penilaian untuk mengukur tingkat keberhasilan PIH di setiap aspeknya. Kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh Ditjen PHU pun sudah sesuai dengan berbagai teori evaluasi yang ada,dimulai dari menentukan semua aspek yang akan di evaluasi dalam PIH, mengembangkan batasan-batasan untuk subjek pengawas, merancang metode evaluasi dengan mengirim langsung instansi-instansi terkait dengan berbabagi aspek dalam PIH, menyusun rencana pelaksanaan mulai dari apa,siapa,kapan dan bagaimana pelaksanaan pengawasan dan evaluasi PIH baik saat masih di Indonesia maupun saat di tanah suci hingga kembali ke Indonesia, kemudian melakukan analisis hasil pengamatan untuk kemudian disusun kesimpulan hasil dan laporan evaluasinya.
Bentuk laporan hasil pengamatan dan evaluasi tersebut tersusun dalam laporan operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 2011 yang disusun oleh segenap jajaran Ditjen PHU. Isi laporan evaluasi tersebut telah digunakan dalam penyusunan rencana PIH untuk tahun 2012 yang telah berlangsung pada bulan Oktober ini dengan beberapa perbaikan yang signifikan untuk memberikan yang terbaik untuk jamaah haji dan untuk negara Indonesia.
3.      Antara tahun 2010 dan 2011, PIH yang diselenggarakan oleh Ditjen PHU memiliki beberapa aspek yang mengalami peningkatan, diantaranya adalah aspek pendaftaran yang semakin baik prosesnya, pemberangkatan dan pemulangan yang mengalami OTP yang stabil, serta beberapa aspek lainnya. Namun masih terjadi nilai negatif untuk penyediaan atau pelayana katering, karena masih saja ada katering yang tidak layak yang sampai kepada jamaah, seharusnya adalah jamaah mendapatkan hak katering yang baik dan layak untuk di konsumsi untuk menopang kebutuhan jamaah selama proses PIH di tanah suci.
B.       Saran
Setelah melakukan beberapa pengamatan tentang berbagai macam masalah ibadah haji tahun 2011 dan penanganannya,penulis dapat memberikan beberapa saran,diantaranya:
1.      Mensosialisasikan kembali mengenai urgensi penggunaan safety box kepada para calon jamaah haji Indonesia agar terminimalisirnya kasus-kasus tentang pencurian barang-barang milik jamaah haji Indonesia. Menambah jumlah petugas yang menangani konsumsi atau katering untuk jamaah haji Indonesia selama di tanah suci,agar jika dilakukan dengan sistem prasmanan makanan tersebut kemungkinan besar tidak cepat basi karena disajikan dalam keadaan terpisah antara makanan pokok dengan lauk. Setidaknya berbagai sebab yang menyebabkan jamaah haji mendapati kateringnya tidak layak,bisa menjadi teratur dengan jadwal makan yang sudah disepakati untuk berkumpul dalam satu waktu di satu tempat yang ingin disepakati bersama. Dan juga menambah jumlah petugas agar tidak terjadi kesemrawutan dalam pembagian jatah makanan  selama di tanah suci jika menggunakan sistem prasmanan.
2.      Menekankan kesepakatan dengan pihak maskapai penerbangan agar lebih bisa mengatur jadwal penerbangan untuk tujuan lain,dan lebih memriotaskan penerbangan untuk jamaah haji Indonesia agar tidak lagi terjadi keterlambatan selama proses pemberangkatan (embarkasi) dan pemulangan (debarkasi) jamaah haji Indonesia.
3.      Ditjen PHU diharapkan mampu menjaga kestabilan alur pelaksanaan PIH yang ideal baik saat masih di tanah air maupun selama di tanah suci hingga kembali ke Indonesia.