Showing posts with label Social Situation. Show all posts
Showing posts with label Social Situation. Show all posts

Thursday, June 6, 2013

Memoar 27 Rajab

"27 bulan Rajab, itulah hari yang berbahagia. Hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad, menghadap Allah Maha Esa. Mengahadap Allah, Nabi Muhammad bersama Jibril dengan Buroq. Ke Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, ke langit ke Sidratul Muthaha. Nabi terima perintah Allah, k'wajiban 5 suruh sembahyang. Umat Islam s'luruh dunia, wajib taati perintah Allah..."

     Itu adalah penggalan lirik lagu tentang 27 Rajab (Isra' Mi'raj) yang selalu saya dengar semasa duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, sekitar akhir 90'an hingga awal 2000'an. Zaman dulu masih bocah sih banyak banget lagu-lagu yang liriknya tentang Islam, seringnya dibawain sama penyanyi cilik pada masa itu, Dea Ananda, yang tentunya sering juga ditampilkan pas ada acara perpisahan kelas 6.
     Dengan adanya lagu-lagu Islami tersebut, ya sekaligus mendidik kami yang masih kecil pada saat itu untuk lebih tahu tentang Islam dengan cara yang kami senang, menyanyi. Tapi kalau sekarang ini, penyanyi ciliknya sudah pada mengalami penuaan dini, jadi nyanyiannya cuma lagu-lagu alay dan galau, gak peduli dengan nilai mendidik yang terkandung dalam lagu-lagunya tersebut. Jadi ya cuma bisa menghasilkan generasi muda yang suka menggalau dan mengeluh, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Yaaah beruntunglah saya terlahir sebagai anak 90'an, yang masih bisa menikmati masa kecil yang sesungguhnya.
     Mengikuti perkembangan zaman yang saat ini sedang mengalami trend dakwah melalui nyanyian, dilakukan karena saat ini nyanyian atau musik sedang digandrungi oleh anak muda, bahkan juga oleh anak-anak di bawah umur. Senandung yang diciptakan hanya berisi ungkapan hati tentang jatuh cinta ataupun putus cinta, turut andil dalam mencetak generasi muda yang sangat sering mengeluh dengan apa yang terjadi yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bahkan hingga sampai bunuh diri, mengapa demikian karena mereka tidak memiliki sense of belonging terhadap Tuhan, sehingga mereka merasa sendiri dalam kegagalannya.
     Harusnya, anak-anak muda saat ini gencar dalam menyuarakan pesan moral agama dalam lantunan lagunya, dan itu tidak dilakukan hanya pada saat bulan Ramadhan. Karena kedok berdakwah pada bulan Ramadhan itu hanyalah untuk mencari keuntungan komersil semata, bukan murni menyuarakan tentang ajaran Islam, terlihat dari lirik lagunya yang tak berisi. Zaman memang mengalami kemajuan dalam arti secara harfiah, tapi secara lebih luas justru masih ada beberapa aspek yang mengalami kemunduran, salah satunya adalah kemunduran moral bangsa. Siapa yang patut disalahkan?
     Mulailah dari sekarang, benahi diri, benahi keadaan sekitar, benahi bangsa dan benahi dunia. Mulai dari hal kecil, mulailah dari diri sendiri. Taati ajaran yang sudah ada, ambil yang benar dan koreksi yang salah.

"Sholat itu adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya maka tegaklah agamanya. Dan barang siapa merobohkannya, maka sesungguhnya ia telah merobohkan agamanya." (HR. Baihaqi)

~Nostalgia Masa Kecil dan Selamat Hari Isra' Mi'raj 1434 H. Isra' Mi'raj sebagai renungan bagi umat Islam dunia untuk semakin mendekatkan hubungan vertikalnya dengan Tuhan melalui perintah sholat 5 waktu.

Friday, May 24, 2013

#Taskophobia


     Taskophobia merupakan sebuah sindrom dimana penderita dikenai rasa takut,marah dan bingung ketika dihadapi dengan tugas-tugas yang dalam bentuk sama dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Perasaan terburu-buru selalu membayang-bayangi penderita. Sindrom ini biasanya terjadi secara "menyemester" di bulan Mei-Juni atau Desember-Januari.
     Para peneliti profesional belum bisa menemukan obat untuk sindrom ini, karena menurut mereka sindrom ini sangat berbahaya untuk ketenangan jiwa dan berakhir pada keletihan pada raga. Namun untungnya para peneliti amatir telah mendapatkan sedikit pencerahan, sindrom ini memang hampir tidak ada obatnya. Mereka, para peneliti amatir berhasil menemukan cara-cara menghindari taskophobia, diantaranya adalah:
  1. Mencari sumber udara yang masih perawan, eh masih segar.
  2. Mengajak penderita ke berbagai tempat-tempat yang bisa membuat penderita merasa senang, seperti gudang tugas dan lain-lain.
  3. Membantu penderita dalam menghadapi cobaan dalam mengerjakan kewajiban saat di akhir semester.
  4. Mereka berpendapat mungkin jalan-jalan atau traveling bisa menyembuhkan gejala-gejala yang muncul.

     Adapun gejala-gejala dari taskophobia adalah penderita merasa bingung, malas, tensi darah meningkat drastis dan lain-lain. Gejala tersebut harus segera dihilangkan agar tidak menjalar terlalu jauh menuju sindrom taskophobia. Diharapkan bagi kerabat/kawan terdekat maupun terjauh bisa membantu penderita dengan berbagi sedikit ilmunya agar penderita tidak terlalu merasa bingung dan menata kembali tujuan hidupnya dengan lebih teratur. Dan bagi penderita, jangan lupa berdoa kepada Allah SWT semoga dibukakan pintu hati para pencetus ide-ide tugas akhir dan diberikan ketenangan bagi para penderita agar dapat kembali beraktifitas seperti sedia kala.

Best regard,
Abdus Somad

Skripsi dan Sekitarnya


Skripsi...

     Ada bermacam perasaan yang timbul dari dalam lubuk hati dan pikiran mahasiswa yang mendengar kata tersebut. Ada senang, sukacita, penasaran, cemas, khawatir, hingga rasa mau mati mendengarnya.

     Apaan sih, kok sering banget dengar orang galau dan depresi karena skripsi? Ayolah, itu cuma kumpulan kata yang harus kita rangkai menjadi satu kesatuan kalimat ilmiah yang nantinya akan menunjukkan sejauh mana kita mampu berpikir dan mengaplikasikan ilmu perkuliahan kita.

     Skripsi, mayoritas terdiri dari 5 bab : Bab 1, yang isinya alasan mengapa kita mau menulis apa yang akan kita tulis dan berbagai kerangka tulisan yang nantinya akan merepresentasikan seluruh isi skripsi kita. Bab 2, yang isinya berbagai landasan teori yang mendukung jalannya penelitian dan pendalaman data temuan. Penulis rasa, ini adalah bab yang paling gampang yang pernah ada, karena tanpa perlu berpikir banyak pun kita bisa mengambil dan menyalinnya dari berbagai sumber referensi buku, majalah, jurnal dan lainnya, yang penting itu adalah teori. Bab 3, ini juga gampang kok, kan isinya cuma profil lembaga tempat kita mencari bahan penelitian. Tinggal minta saja sama narasumber kita, masa iya sih gak ada. Bab 4, nah ini yang biasanya bikin mahasiswa depresi, katanya sih susah banget, sampe mengalami #Taskophobia*. Tapi kalau diteliti lebih dalam, ternyata bab 4 ini isinya apa-apa yang kita tanya-tanyain ke narasumber itu, sekarang teknologi sudah canggih, pas wawancara tinggal rekam dan salin, lalu dicocokin sama teorinya, kira-kira sudah sesuai apa belum. Terakhir adalah bab 5, isinya cuma kesimpulan dari 4 bab sebelumnya dan kemudian ditulis juga beberapa saran untuk tempat kita penelitian, ya mungkin aja nanti suatu saat saran dari kita bisa diaplikasikan sama yang empunya lembaga.

     Nah, ceritanya sudah 5 bab nih ya, baru deh kita bikin abstrak yang isinya pada umumnya adalah beberapa paragraf yang memuat ilustrasi penelitian, dari mulai latar belakang, sekilas tentang tugas dan fungsi lembaga, rumusan penelitian, metode dan pendekatan yang kita pakai dan hasil temuan di paragraf akhir.

     Tapi, sedikit keluar dari semua paparan di atas, ternyata ada beberapa fakta unik tentang skripsi:
Mahasiswa mengalami beberapa tingkatan perasaan positif dan negatif:
  1. Positif : Pertama, merasa bahagia bila sudah menginjak semester 8, artinya mahasiswa itu akan menyusun skripsi dan dapat menuangkan pikiran dan ilmunya dalam untaian kata ilmiah. Kedua, merasa puas saat sudah mendapat ide atau judul untuk bahan penelitian, ia pasti akan langsung membuat pengajuan judul kepada ketua prodi/jurusannya. Ketiga, lebih merasa senang dan bangga jika sudah selesai seminar proposal, artinya judl sudah di tangan dan siap untuk melangkah lebih lanjut, serta tentunya ia akan mau dan mampu untuk membantu teman-temannya yang belum mendapatkan ide atau judul penelitian. Keempat, merasa semangat penuh dalam menyusun setiap rangkaian bab dan mengatur strategi untuk wawancara kepada narasumber, menyiapkan poin-poin wawancara serta ada juga yang persiapan kamera jika ia punya sifat narsis untuk berfoto bersama narasumbernya, sebagai bukti bahwa ia mampu menjalankan hal yang dianggap sepele untuk mendapatkan data yang diperlukan. Kelima, kadang ada yang merasa "ini adalah perjuangan, gak boleh menyerah!" di kala ia mendapatkan beberapa rintangan seperti bahasannya kurang spesifik, teorinya kurang lengkap dan kredibel, teknik penulisannya ada yang keliru, bahkan tak jarang ada yang kehilangan file softcopy-nya, sehingga harus mengetik ulang dari apa yang sudah ia cetak, dan itupun masih kurang dari apa yang ada dalam softcopy. Keenam, merasa percaya diri namun agak ragu saat hendak menemui dosen pembimbing, ada rasa cemas "bagaimana kalau masih saja terus di revisi?". Tapi ia terus berupaya membuang pikiran tersebut, yang ada hanyalah percaya diri dan tetap yakin. Ketujuh, pastinya semua merasa bahagia sentosa saat skripsinya sudah ditandatangani oleh dosen pembimbing, pasti ada juga yang pamer setelah mendapatkannya (termasuk penulis, hehehe). Kedelapan, WOW agak kaget saat mendaftar sidang dan mengetahui bahwa pengujinya nanti adalah seorang guru besar atau seorang profesor yang terkenal killer. Tapi ia tetap yakin bahwa ia pasti mampu mempertahankan argumen penelitiannya, karena itu adalah asli tulisannya. Kesembilan, makin WOW karena ia mampu menjalani sidang dengan penuh khidmat di tengah cecaran dan kritikan dari dosen penguji, ia berhasil mendapatkan nilai yang baik karena penelitiannya dan tentunya revisi yang tidak banyak. Kesepuluh. ternyata rasa "WOW" itu agak sedikit mengendur diakibatkan yang harus di revisi adalah data-data yang agak sulit untuk dicari, tapi dengan gigih ia terus mencari dan berusaha mendapatkannya agar bisa dengan segera ia menuntaskan penelitiannya. Kesebelas, akhirnya rasa puas itu kembali datang saat ia menemukan titik terang revisi penelitiannya, dengan segera ia melakukan apa yang dosen penguji pinta. Keduabelas, revisi telah selesai dan sesuai, saatnya meminta pengesahan dari para tim penguji, alangkah bahagianya dan WOW-nya hati mahasiswa itu saat ia berhasil mengumpulkan tanda tangan tersebut, walaupun di tengah jalan masih ada beberapa kendala saat mencari "coretan tangan" si penguji. Ketigabelas, ini adalah positif terakhir, yakni saat-saat ia akan menjalani prosesi wisuda. Lihatlah, betapa bahagia dan puas hatinya akan perjuangan yang selama ini ia hadapi, bertahun-tahun ia mengemban tugas untuk mengabdi ilmu pada kampusnya, kini telah dibayar lunas dengan pemindahan tali topi toganya oleh sang rektor. Senyum lebar dan ikhlas terurai dari wajahnya, menandakan kepuasan hatinya akan semua hal yang telah dilaluinya, apalagi ia tidak sendiri, ia bersama teman lainnya yang saling bekerja sama dengannya dalam berbagai macam seluk beluk dalam skripsi. Sungguh inilah perjuangan :)
  2. Nah, di atas adalah seharusnya bagaimana kita menghadapi hal yang bernama skripsi, jalanilah dengan berpikir positif dan meraih kesempatan yang ada. Ada hitam, ada putih. Ada positif, ada juga yang negatif. Bagaimana sih ciri negatif mahasiswa yang sedang menglami #skripsophobia? Berikut cuplikan singkatnya : Pertama, dari awal ia masuk kuliah pun sudah terlihat masa depannya akademisnya yang agak suram, kuliah jarang masuk, tugas pun tak pernah tersentuh langsung, dan... apalah itu, pokoknya menggambarkan mahasiswa yang tidak seharusnya menjadi mahasiswa. Kedua, pasti terasa agak mual dan pusing saat hendak menginjak di semester 8, mayoritas sudah tidak ada perkuliahan lagi, yang ada hanya skripsi dan ia pun menyebutnya sebagai #skripshit. Ketiga, masa bodoh dengan teman-temannya yang sudah mendapatkan ide atau judul penelitian, bahkan sebagiannya sudah hampir menempuh bab 4. Ia masih saja terus merasa malas dan agak tak ikhlas dalam menelaah keadaan sekitar untuk mendapatkan ide. Keempat, ceritanya ia sudah dapat judul nih, itupun akibat dari temannya yang tidak jadi mengambil judul tersebut, akhirnya ia lah yang memakai judul tersebut untuk penelitiannya, ia buat kerangka proposal dengan seadanya, padahal ia mampu untuk membuat yang lebih baik. Kelima, judul sudah di tangan, namun ia acuhkan se-lama mungkin, bahkan teman lainnya ada yang sudah mau wisuda. Padahal ia tak ada kesibukan lain yang mengisi harinya. Keenam, sudah satu tahun, sebagian temannya sudah mendapatkan pekerjaan yang menggiurkan, namun ia pun masih duduk termenung di kampusnya, merasa sepi karena sudah tak ada teman dekat yang bisa di ajak bercengkrama, akhirnya ia mencari pelarian dengan bergaul kepada mereka yang juga masih sibuk tersendat di tengah jalan skripsinya. Dimulai lagi lah skripsinya itu. Ketujuh, ia menjalani skripsinya dengan perasaan dukacita dan penuh pikiran negatif, entah alasan tak ada referensi, narasumber yang sulit untuk ditemui, hingga kata-kata kasar dan kotor kerap menghiasi mulutnya. Intinya proses skripsinya adalah proses yang negatif dan dengan aura yang tidak sedap untuk dirasakan. Kedelapan, hendak menemui dosen pembimbing untuk meng-acc-kan skripsinya, timbul lagi rasa segan. Padahal skripsinya itu sudah lumayan layak untuk di-acc dan disidangkan, yang ada hanya rasa malas dan pikiran negatif. Kesembilan, sudah memasuki tahun ke-6 ia di kampus, teman-temannya tinggal beberapa nyawa, semakin banyak ia dikelilingi oleh junior-juniornya yang terasa seakan lebih pintar darinya. Skripsinya pun belum juga usai karena pada waktu itu saat berencana untuk ditandatangani oleh dosen pembimbing, ternyata ada banyak kesalahan yang ia buat dan ia mengerjakan dengan asal, sehingga harus sering mengulangnya, juga ia pun jarang sekali menemui dosen pembimbingnya. Kesepuluh, kembali ia terus mencaci keadaan yang ia anggap tidak berpihak padanya. Perasaan bersalah mulai muncul dalam benaknya, andaikan ia mengerjakan skripsinya dengan semestinya. Hingga akhirnya ia pun selesai dan hendak menjalani sidang. Kesebelas, padahal ia mendapatkan dosen yang lumayan santai, tetapi ia terus merasa tidak yakin dengan hasil yang ia buat, hingga sidang skripsinya berakhir seadanya dengan hasil yang apa apanya, revisi pun lumayan banyak dan dengan penuh rasa terpaksa ia menjalaninya. Keduabelas, revisi selesai, hendak meminta tanda tangan dari para penguji, kebetulan para pengujinya sedang ada keesibukan yang amat penting. Sudah pasti, ia masih saja terus mengumpat sejadi-jadinya, hingga beberapa minggu kemudia ia pun mendapatkan semua tanda tangan tersebut. Ketigabelas, akhirnya tiba pada puncak dari semuanya, #Wisuda. Ia menghadiri wisuda dengan tanpa teman-teman dekatnya, bahkan ia dikelilingi oleh junior yang ada di 2 tahun angkatan dibawahnya. Perasaan yang, ah...... sungguh tidak memuaskan. Penyesalan mewarnai prosesi yang seharusnya menjadi akhir yang bahagia jika ia bersama dengan teman-teman dekatnya..


     Ayolah, #skripsi itu cuma 5 bab, mulailah dari sekarang memanggilnya dengan sebutan #skripsweet agar semua yang kau lalui akan terasa indah dan memberikan hasil yang baik. Tinggal kau pilih, menjadi positif atau negatif? Keputusan ada di dalam batin dan pikiran anda, anda yang mengerjakan, anda yang akan menentukan masa depan akademis anda. Kerjakan dengan maksimal, lakukan dengan seluruh kemampuan yang kamu bisa, jalani dengan sukacita, itulah kuncinya!

"Be positive and everything will be nice. Keep struggling, keep surviving, because they are the key of the success for your life". (Abdus Somad | 2012)

-> Catatan ini di buat bukan untuk bermaksud negatif, tapi justru untuk menumbuhkan rasa positif dalam pikiran saat menjalani proses #skripsweet :)

Kata kunci dan hashtag : #Skripsi, #Wisuda, #Mahasiswa, #Kampus, #Positive

Copyrighted by Abdus Somad | ©2013

Friday, May 17, 2013

15 tahun pasca-reformasi, Indonesia menjadi lebih baik?

     Pertanyaan yang sudah pasti jawabannya : TIDAK!

     Siapa yang lupa dengan tragedi kerusuhan Mei 1998 (May 1998 Riots of Indonesia)? Tentu saja para korban tirani tidak lupa dengan kejadian tersebut, yang lupa hanyalah para pelaku kejahatan demokrasi pada saat itu dan orang-orang yang mendukungnya. Loh, kok masih ada saja ya yang berpihak pada yang lalim? Apalagi kebanyakan dari mereka adalah para pemuda, yang pada masa jayanya (mahasiswa -red) selalu berkoar-koar menyuarakan penuntasan penindakan kejahatan dan penegakkan keadilan di Indonesia. Kehidupan memang begitu, ibrata roda -roda yang selalu berputar pada porosnya, yang dulunya membela yang lemah namun keadaan berbalik justru saar ini mereka menyerang yang lemah, sedangkan mereka tidak sadar bahwa posisi mereka tak ubahnya sebuah poros roda yang selalu berada di tengah-tengah realita, yang tidak jelas dia berpihak kepada yang di atas atau yang di bawah.

     Namun itulah kondisi nyata saat ini, itu semua dilakukan hanya demi kepentingan pribadi semata, yang sudah tertaklukan oleh harta dan tahta, tak jarang juga yang tertaklukan oleh wanita. Kembali pada Mei 1998, siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa yang harus ditanggungjawabi? Apa dampaknya untuk Indonesia saat ini? Apakah justru reformasi pada saat itu berbuah manis seperti yang diharapkan? Apakah keadilan dapat ditegakkan, ataukah kemiskinan dapat dituntaskan, atau bahkan apakah Indonesia menjadi sejahtera?

     Untuk insiden itu, banyak pihak yang disalahkan dalam pembentukan awal mula sistem reformasi dan demokrasi di Indonesia, tidak lepas dari mantan presiden RI pada saat itu, Soeharto dan juga para antek-antek militernya, yang memang mau tak mau mereka harus membela presidennya, sesuai dengan sumpah jabatan yang telah mereka ucapkan. Tapi apakah sebuah sumpah itu harus selalu dipatuhi ketika esensi sumpah itu bertentangan dengan yang memberi sumpah? #TanyaKenapa

     Lalu, siapa yang punya hak untuk ditanggungjawabi? Rakyat kah? Benar sekali! Tapi apakah semua hak rakyat sudah terpenuhi pasca-reformasi tersebut? Lihatlah keadaan, masih banyak mereka-mereka yang hanya mampu meneguk ludahnya saat melihat orang lain disekitarnya hidup sejahtera. Kemiskinan memang hal yang sudah lumrah dalam bermasyarakat di Indonesia, tapi yang lebih parah adalah kesenjangan di antara keduanya. Kesenjangan ekonomi adalah sesuatu yang bisa menimbulkan mata rantai yang tak bisa putus, artinya kesenjangan ekonomi bisa menyebabkan sesuatu yang fatal; pencurian, perampokan, kerusuhan hingga pembunuhan. Lahirnya era reformasi ternyata hanya mereformasi sistem pemerintahan saja, itupun malah ke arah yang lebih buruk, hingga melupakan pemerataan pembangunan. Bukan hanya antara kota dan daerah, tapi juga di internal kota pun masih banyak kesenjangan yang timbul karena pemerintah "tidak melihat" mereka yang terpinggirkan.

     Bukan hanya itu dampak dari reformasi, lahirnya era yang mengedepankan "sistem semena-mena" ini tentunya merugikan pihak yang seharusnya benar, mereka semakin dibuat seakan-akan terbuang dari dalam sistem. Lihat saja, sejak tahun-tahun belakangan ini makin marak saja tindak korupsi dari para pejabat kotor. Mereka bekerja bukan hanya untuk menafkahi hidup mereka, akan tetapi mereka bekerja untuk memiskinkan bangsa. Uang siapa? Itu uang rakyat loh! Tapi apa langkah kongkritnya? Pemerintah hanya terlalu banyak bicara dan mencari muka, bertindak tegas namun hanya setengah-setengah, tidak tuntas dan menyebabkan kasus korupsi semakin bertumpuk. Jadi ya, belum menimbulkan efek jera kepada para koruptor dan juga memancing para pejabat kotor lainnya untuk berbuat serupa. Alhasil, bangsa kita semakin miskin di tengah berlimpahnya sumber daya yang ada.

     Kemudian juga, lahirnya era reformasi dan demokrasi di Indonesia ini ternyata pada prakteknya tidak seperti apa yang dulu dicita-citakan oleh pejuang demokrasi, membentuk tatanan pemerinthan yang bersih, jujur dan adil. Karena apa? Begini, boleh saja pada tahun 1998 banyak mahasiswa dan rakyat yang mati-matian turun ke jalan untuk membela negara, tapi apakah saat ini balasan yang diberikan oleh penerusnya sudah setimpal? Lihat saja, mahasiswa dan pemuda saat ini bergerak bukan dari hati nurani mereka, mereka bergerak karena digerakkan oleh uang, uang yang diambil secara kotor oleh pejabat atau sosok yang mereka elu-elukan. Jadi ya percuma saja jika pada masanya mereka dengan lantang meneriakkan dan bersuara untuk penegakkan keadilan, tapi tak lama berselang justru mereka yang menjadi orang di balik suksesnya para "pencuri" tersebut. Inkonsistensi para pemuda dan mahasiswa saat ini memang sangat memprihatinkan, mereka rela membela yang salah hanya lagi-lagi karena adanya kesenjangan yang tumbuh subur di kehidupan mereka. Mencuatnya rasa ingin memenuhi kebutuhan hidup memaksa mereka "menelan ludah sendiri" yang secara sadar atau tidak sadar mereka telah berbuat kejam dan ketidak-adilan kepada rakyat yang tak bersalah.

     Untuk itulah, bangsa ini sangat perlu penanaman akhlak dan moral kemanusiaan dalam setiap hembusan nafas mereka, agar mereka sadar apa yang sejatinya menjadi tugas mereka untuk membenahi tatanan negara yang hampir hancur lebur ini. Diperlukan pengawasan dan pendidikan yang ketat dan fleksibel agar pesan yang disampaikan bisa diresapi dengan benar oleh para penerus bangsa. Diharapkan, dengan adanya penanaman akhlak dan moral kemanusiaan tersebut dapat mencegah kembalinya timbul tragedi Trisakti dan tragedi Mei 1998 di masa kini dan selanjutnya. Menciptakan kehidupan yang harmonis, aman, nyaman dan sejahtera, serta berjalan dalam kesetaraan yang saling mengisi satu sama lain. Juga diharapkan mereka keluar dari jalan kesesatan yang menuntun mereka ke sikap memihak kepada yang salah, harus diberikan kesadaran bahwa yang mereka agungkan itu adalah mereka yang dulu dan nantinya berfungsi sebagai perusak bangsa dan negara.

#Sekian.

Friday, March 22, 2013

Politik Paketan

Politik paketan? Maksudnya? (Iya sebentar, ini lagi mau dibahas kok!)

     Akhir-akhir ini pernah terjadi beberapa kasus munculnya gap antara pemimpin dan wakilnya, sehingga menyebabkan mereka hanya "romantis" di awal namun berakibat kisruh di tengah dan akhir masa akad jabatan mereka. Contoh yang paling santer dibicarakan oleh media adalah saat wakil bupati Garut, Dicky Chandra yang menjadi wakil dari bupati Garut yang paling fenomenal pada saat itu, Aceng Fikri. Selain itu, ada juga yang paling paling paling fenomenal, yakni saat mundurnya Prijanto sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, yang pada saat itu gubernurnya masih dijabat oleh Fauzi Bowo.
      Penyebab mundurnya wakil dari atasannya ada berbagai macam, diantaranya adalah seperti yang terjadi pada Dicky Chandra. Hanya berlatang alasan klasik, sudah tidak ada lagi kecocokan di antara mereka. Seperti halnya pada Prijanto yang merasa tidak cocok dengan pasangannya, Fauzi Bowo, di masa-masa akhir jabatannya yang tinggal 11 bulan lagi. Andai mereka tahu, menjadi pasangan pemimpin itu adalah layaknya pasangan suami-istri yang melakukan akad pernikahan di hadapan penghulu dan disaksikan oleh Tuhan. Perceraian adalah hal yang dibenci oleh Tuhan, serupa dengan pisahnya pemimpin dengan wakilnya, berarti hal tersebut adalah bentuk pelepasan tanggung jawab yang telah diamanahkan oleh masyarakat. Pelepasan tanggung jawab, walaupun secara resmi namun tetap saja hal itu adalah tak lazim.
     Logikanya begini, kalau mereka tiba-tiba timbul ketidakcocokan, mengapa mereka mau berpasangan di awalnya. Nah itulah yang menjadi tanda tanya besar di pikiran masyarakat dan jajaran stafnya. Seakan yang bisa menjadi jawabannya adalah mereka berpasangan hanya karena tanggung jawab partai, bukan bentuk tanggung jawam sebagai seorang pemimpin. Lagi-lagi, masalah partai adalah hal yang tak akan bisa pernah lepas dari sosok yang diusungnya sebagai pemimpin dan wakilnya. Perasaan timbul hutang atau suatu ikatan agar tetap mematuhi partai walaupun mereka telah menjadi milik rakyat seutuhnya. Masalah partai adalah urusan lain, jangan pernah atau tidak boleh dicampur adukan dengan urusan kepemimpinan yang telah diamanahkan. Kebanyakan saat inil, para pemimpin dan wakilnya selalu bagai sapi yang dicucuk hidunya oleh partai, apapun yang diperintah oleh partai maka harus dilaksanakan, tetapi justru melupakan tanggung jawabnya sebagai pemenuh aspirasi rakyat. Intinya, lupakan sejenak urusan partai jika seseorang terpilih menjadi pemimpin dan wakil pemimpin untuk suatu wilayah tertentu, tetap hanya pikirkan rakyat karena rakyat menaruh harapan pada mereka.
     Untuk itu, memang jalan terbaik jika ingin menjadi pemimpin dan wakil pemimpin haruslah berasal dari "atap" yang sama, jika ingin dari partai, maka harus dari partai yang sama. Dukungan dari partai lain sah saja,  namun hanya untuk dukungan suara dan perjanjian jabatan, itu hal yang lumrah asalkan tidak ada janji sebagai wakil, karena hal itu bisa menimbulakn reaksi yang alamiah pada saat roda pemerintahan berjalan. Menyatukan visi dan misi bukan hanya sekedar dari calon pemimpin dan wakilnya, namun jika berbeda partai maka akan sama visi misinya akan tetapi tetap berbeda "perintah" dari partainya masing-masing. Ibarat rumah tangga, kesepahaman agama bisa disebut sebagai partai, jika calon suami dan istri berbeda agama mereka bisa tetap disatukan, namun tetap akan menjadi hal yang masing-masing dalam perintah dari agamnya. Hal tersebut pun bisa berakibat menumbuhkan rasa kebingungan dari anaknya, mau kemana atau mau ikut agama mana mereka nantinya? Jika dari usia dini saja hanya ditanamkan dari kedua agama, bukan dari satu agama pasti dari orang tuanya. Sama halnya dengan pemerintahan, jika pemimpin dan wakilnya berasal dari partai yang berbeda, maka  jajaran staf dan rakyatnya akan menjadi bingung, sebenarnya mereka pada saat pemilihan lalu itu mendukung manusia atau partai, karena saat sudah terpilih malah pemimpin dan wakilnya malah menjalankan amanah partai, bukan amanah rakyat. Alhasil, akan timbul banyak reaksi, mulai dari rasa curiga dan tidak percaya, hingga maraknya demonstrasi terhadap kinerja pemimpin dan wakil yang memang tidak sejalan sebagaimana mestinya yang diakibatkan berbedanya visi dan misi dari partai pengusung mereka masing-masing.
     Teringat baru-baru ini pernyataan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi yang menyatakan bahwa sepertinya memang di Indonesia itu tidak perlu ada wakil pemimpin, karena memang menurut hemat saya, sosok wakil itu hanya bertugas sebagai pengganti dikala sang pemimpin berhalangan untuk hadir dalam suatu acara. Bahkan bisa dibilang sosok wakil adalah hanya bertugas sebagai pemanis dalam jalannya roda pemerintahan, dan lebih parahnya lagi sosok wakil hanyalah penarik suara saat pemilihan berlangsung, karena tak jarang sosok wakil lebih disegani dan lebih berjasa dibanding sosok pemimpinnya. Padahal, jika hanya bertugas sebagai pengganti, hal tersebut bisa dilaksanakan oleh dinas-dinas yang ada kaitannya dengan suatu acara tersebut, misalkan jika ada acara kepemudaan dan olahraga, maka hanya perwakilan dinas olahraga dan pemuda (disorda) pun sudah cukup, bahkan lebih dari cukup karena perwakilan tersebut lebih menguasai tema dari acara itu.
     Gamawan Fauzi juga menyatakan bahwa ia pernah menjabat sebagai kepala sekolah, dan ia tidak menunjuk seorang pun untuk menjadi wakilnya, dan roda kepemimpinan pun tetap berjalan lancar. Menurutnya juga, saat ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sedang dalam garapan usulan rancangan undang-undang tentang jabatan dalam sebuah kepemimpinan, seperti dalam lingkup bupati, walikota dan gubernur. Hal tersebut sedang diupayakan oleh Kemendagri kepada DPR RI dan berharap usulan tersebut bisa dikabulkan.
     Semoga saja hal tersebut bisa segera direalisasikan oleh DPR, agar bisa meminimalisir timbulnya aksi-aksi anarki dari pendukung mereka yang telah kecewa dengan kinerja pemimpin karena tidak sesuai dengan rakyatnya. Lagipula jia hal tersebut bisa dilaksanakn, otomatis bisa menghemat APBD untuk menggaji para pejabat setempatnya, kan? Jadi APBD bisa difokuskan untuk pembangunan daerah, bukan lagi dikeluarkan untuk hal yang absurd seperti untuk menggaji wakil pemimpin. Karena jumlah gaji seorang wakil tidak terlalu sebanding dengan kinerjanya yang hanya sebagai wakil.

*Terinspirasi dari tayangan talkshow 811 Show Metro TV pada Kamis, 21 Maret 2013 dengan narasumber Gamawan Fauzi (Mendagri) dan J. Kristiadi (Pengamat Politik CSIS) yang membahas tentang dilema kinerja wakil pemimpin suatu daerah.

Thursday, March 21, 2013

Politik Bawang 2013

Sumber gambar : http://reevy.files.wordpress.com/2012/05/garlic-onion.jpg
     Hayoooo, siapa yang juga ngerasa kalo sekarang-sekarang ini porsi bawang di setiap hidangan jajanan lagi agak berkurang atau bahkan lagi kosong? *SAYA!. Jadi begini, ini pengalaman nyata saya loh, baru saya dapati tanggal 19 Maret 2013 lalu. Ceritanya saya sedang di kampus untuk beberapa keperluan, sedari siang saya tiba di kampus tercinta hingga kemudian sekitar jam 14.00 WIB saya sudah mulai merasa lapar. Saya pun lantas mengajak teman-teman saya untuk makan di warung nasi dekat kampus, warung nasi yang pemiliknya kami sebut dengan panggilan "Mpok". Seperti biasa, kami akan di sana hingga senja menyapa, yaaah sekedar untuk melepas beban pikiran dan memanjakan lambung tersayang.
      Setibanya kami di sana, saya adalah orang pertama yang lantas memesan 1 porsi nasi uduk dengan beberapa lauknya. Namun ada yang tidak biasa ternyata :
Saya (S) : "Mpoook, mpoook.. *lagi sholat kali nih yaa*".
S : "Mpoook.."
Mpok (M) : "Iyaaaaa"
S : "Mpok, nasi uduk ada gak?"
M : "Ada nih, mau pake apaan? *sembari nyendokin nasi ke dalam piring"
S : "Biasa, mpok. Pake telor dipedesin sama perkedel, pakein kuah semurnya dikit ya"
M : "Sip.. Eh tapi ini lagi kaga ada bawang nih ya, gak apa-apa kan?"
S : "Hahaha iya mpok, kaga papa, lagi mahal juga, mpok?"
M : "Iya nih, udah dari kemarenan"
S : " Iya dah mpok. Oh iya, biasa ya minta batu es"
M : "Oke"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
     Tuh, dari kejadian nyata di atas, ternyata harga mahal bawang sudah mulai menjalar ke segala penjuru, hingga ke perbatasan. (Karena Ciputat adalah daerah perbatasan antara Jakarta dan Banten). Padahal yang kita semua ketahui, bawang adalah tipikal satu benda yang memang sepele, tapi jika sedang situasi seperti 2013 saat ini pasti imbas naiknya harga bawang menusuk kalbu dan menguras isi dompet para kaum bapak dan kaum ibu. Mereka harus mengeluarkan sejumlah uang yang memang terhitung besar, kisaran Rp. 65.000,- hingga Rp. 100.000,- per kilogram bawang, baik itu bawang merah ataupun bawang putih.
     Bawang merupakan salah satu jenis bumbu yang memang semua jenis bumbu adalah sepele namun memiliki pengaruh besar terhadap kualitas masakan Indonesia. Ternyata benar, ada nasehat yang berbunyi "segala sesuatu pasti baru terasa kehadirannya jika sesuatu tersebut sudah hilang". Bawang goreng ataupun bawang putih memang kerap digunakan sebagai bumbu masak dan taburan untuk berbagai jenis hidangan, walaupun tidak menjadi sebuah kewajiban tetapi istilah "tidak ada bawang, tidak rame" memang benar terbukti adanya. Bawang goreng memang memberi kenikmatan tersendiri pada sejumlah hidangan utama, seperti nasi uduk yang terjadi pada kisah nyata saya di atas. Tapi tanpa adanya bawang goreng, nasi uduk terasa hambar dan kurang greget.
     Sekarang kita menuju topik mengapa harga bawang bisa melonjak naik, atau bahkan kata mama saya, itu harga gak naik, melainkan berubah total. Harga yang namanya naik itu biasanya hanya berkisar 1000-5000 rupiah, tapi kalau melonjak dari Rp. 25.000,- menjadi Rp. 65.000,- atau Rp. 100.000,- itu sih kebangetan, berubah harga tapi gak bikin selametan nasi kuning dulu, bener gak ibu-ibu?
     Bawang di Indonesia memang sedang mengalami krisis, berbagai krisis tepatnya yang disebabkan oleh berbabagi faktor. Faktor pertama adalah datang dari pengaruh cuaca, cuaca di Indonesia yang belakangan ini sedang tidak bersahabat menyebabkan sedikitnya terhadap jumlah pasokan panen bawang di daerah penghasilnya. Faktor cuaca adalah faktor yang memang tidak bisa disalahkan secara langsung dan murni sulit untuk diubah. Faktor kedua adalah datang dari subyek penghasil bawangnya, yakni para petani. Para petani bawang memang sulit untuk mendapatkan bibit bawang unggul untuk memenuhi permintaan pasar, alhasil bawang yang mereka tanam pun ya memang hanya berkualitas "Indonesia". Sulitnya mendapatkan bibit unggul ini adalah akibat mahalnya harga bibit bawang yang berkualitas bagus, karena memang seakan tidak didukung oleh pemerintah terkait untuk menyejahterakan kehidupan petani. Nah, faktor pemerintah inilah yang menjadi faktor ketiga. Pemerintah memang memiliki peran yang banyak terkait pasokan kebutuhan pasar di Indonesia. Pemerintah dari tahun ke tahun sudah kecanduan dengan barang impor, lebih bangga dengan hasil dari negeri orang dibanding hasil dari jerih payah negeri sendiri. Pasokan bawang impor yang imbasnya menghalangi bawang kualitas lokal menyebabkan petani bawang Indonesia menjadi semakin terpinggirkan dengan bawang-bawangnya yang tidak dihargai. Alhasil, sempat tersiar di berita bahwa banyak di pelabuhan yang mendapati kontainer-kontainer ukuran besar yang berisi bawang impor sedang (katanya) diproses terkait administrasi impor. Sekilas terlihat bahwa pemerintah malah menjadi penimbun bawang saat kebutuhan dan pasokan bawang di pasar sedang tidak seimbang. Nanti baru deh, kalau sudah tanggal mainnya, bawang-bawang impor itu mulai disalurkan ke pasaran lokal. Tujuannya bukan lain untuk menguntungkan pihak pengimpor dan menghalangi kualitas lokal untuk bersaing secara sehat di pasaran.
     Beberapa faktor di atas, bukan hanya terjadi pada bawang. Masih ingatkah para pemirsa tentang naiknya harga cabe yang terjadi beberapa waktu lalu? Pasti lah masih ingat, apalagi kaum ibu dan kaum bapak. Harga cabe yang naik itu hanya berkisar beberapa minggu, setelah itu mulai lagi kembali normal. Kejadian itu berlangsung di saat masyarakat Indonesia mulai banyak melontarkan rasa ketidakpercayaan terhadap pemerintah di segala aspek. Sama halnya dengan kasus bawang ini, apalagi sekarang sudah Maret 2013, hanya tinggal 12 bulan lagi menuju 9 April 2014. Klasik, menindas yang lemah kemudian mendadak prihatin dan pura-pura tidak tahu, lalu mulai  bertindak atau lebih tepatnya berlaga heroik dengan mengembalikan keadaan seperti semula, dan pada akhirnya mereka para oknum akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk 2014. Maaf yaaa, kami sudah banyak yang cerdas, bisa menilai siapa yang tulus dan siapa yang memang hanya sekedar "pembuat topeng". Apalagi kaum ibu dan kaum bapak, pasti merasa "ah, ogah gue milih dia, waktu itu aja pas dia mimpin harga-harga kebutuhan pokok naiknya kaya mau ngebunuh orang".
     Politik sejenis ini memang sudah banyak, sesuai dengan ilustrasi grafik normal di pasaran; ada kalanya baru merintis, kemudian mulai bangkit, ada di posisi atas, kemudian mulai jenuh dan pada akhirnya turun drastis dan harus memulai dari awal lagi. Sama halnya dengan pencitraan tersebut di atas; ada kalanya membuat keadaan normal, kemudian membuat ulah, lalu mengembalikan kenormalan dengan tangannya sendiri, lalu kembali normal dan mulai dari awal lagi. Ya sebagai warga negara Indonesia yang baik dan cerdas, harusnya bisa berpikir jernih atas segala kondisi yang ada, jangan mudah terpukau dan terpesona dengan segala bentuk kemudahan yang disediakan, karena bisa jadi ada kejahatan di balik topeng karakter baik tersebut.
     Di tengah-tengah krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan saat ini, harus pandai memilih "barang di pasaran", kadang ada yang masih mentah tapi tak jarang juga yang sudah terlanjur busuk, tergantung si penjualnya itu yang bisa berlaku jujur. Tetap pasang mata, pasang telinga dan tetap jaga hati, karena kebohongan bisa saja terjadi jika ada sedikit celah dan ada kemauan untuk berbohong (ya iya laaaah).



Salam hormat,
Abdus Somad, Ph.D